Adalah sebuah keniscayaan bahwa setiap mula akan berujung muara. Tidak ada yang mendebat fakta tentang bagaimana ada bermanuver menjadi tiada. Tinggal menghitung waktu, setiap yang bukan suratan, akan perlahan-lahan menghilang.
Sesuatu yang bukan seharusnya, suatu saat akan memudar dengan sendirinya. Satu demi satu fakta tentangnya akan terungkap sempurna. Sebagaimana tabir tersingkap oleh seberkas cahaya, dan gelap yang menggulita sedikit demi sedikit beralih menjadi benderang akibat selarik sinar istimewa.
Tidak ada hati yang tak kecewa karena berakhirnya sebuah cerita. Tokoh utamanya ada dua. Sepasang pria dan wanita yang pernah berjanji untuk saling setia. Keduanya juga sepakat untuk selalu ada, mengarungi setiap liku dan jalan terjal bersama. Alur kisahnya, begitu memikat hati para pembacanya.
Dari latar waktu dan suasanya yang nampak begitu sempurna, siapa hendak menyangka bahwa cerita itu tiba pada penghujungnya. Pada epilog yang dituturkan langsung oleh mempelai wanita, kami tahu bahwa ada genangan yang hendak tumpah di pelupuk matanya.
“Tidak, apa-apa. Memang sudah seperti ini jalan ceritanya.”
Katanya, bersenandika.
Kini, kedua pipinya nampak basah. Oleh genangan yang sedari tadi disimpannya, sekarang telah tumpah. Sebagian meluruh bersama luka-luka yang telah lama disimpannya. Luka yang tak pernah kepada seorangpun terbagi perihnya. Luka yang awalnya tertutupi, tersilap dari mata-mata yang hendak menghakimi.
Katanya, sudah lama luka itu ada. Mulanya kecil saja. Lantas membesar seiring dengan terajutnya hari menjadi tahun. Luka yang membuatnya bertahan karena menjaga satu kata sayang.
Sang wanita kini berdiri setelah tersungkur beberapa waktu. Awalnya sulit melepaskan ia yang bahkan berkorban untuknya saja enggan. Ada seribu alasan yang membuatnya terus mempertahankan dongeng indah ini. Janji-janji manis yang ia reka-reka sendiri.
Nanti ia pasti berubah.
Harus menunggu sedikit lebih lama agar
kisah ini berujung indah.
“Sudah cukup”
Sang wanita kini sepenuhnya menyadari pedihnya berjuang seorang diri. Dengan seluruh sisa kekuatan yang masih dipunya, ia memutuskan untuk mengakhiri dongengnya.
Tidak ada serpihan dendam yang masih terpendam. Pun tidak ada benci yang timbul di penghujung hari. Semuanya cintanya meluruh seperti dauh jatuh. Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin yang menerbangkangkannya entah kemana.
Tidak semua yang ditinggikan akan selalu membawa kebaikan. Nyatanya, mencintai ia dengan sepenuh hati, dan membersamainya selama ini hanya menyisakan luka yang terus menganga.
Namun, tiada luka yang akan menganga selamanya. Setiap luka hanyalah sementara. Luka yang hadirnya membuat semakin dewasa. Bahwa tidak setiap kecewa akan berujung sengsara.
Selalu ada pilihan untuk bangkit. Menelan luka itu sendirian, lalu menyembuhkannya perlahan. Tidak mudah memang, tetapi bukan hal mustahil untuk dilakukan. Sang wanita tidak pernah sendirian. Ada Tuhan yang menyisipkan hikmah pada setiap jawaban. Ada mereka sang pelipur lara. Mereka yang memeluknya dalam doa-doa yang sama: mendekatkan bahagia dan mengenyahkan segala lara.
Yang pergi akan segera terganti. Dengan ia yang lebih bisa mencintai sepenuh hati. Dan membawa cerita menuju hari bahagia yang telah lama dinanti.
Semoga sajak ini membantumu menjadi lebih ikhlas, dan menjaga jiwamu tetap waras.
Peluk hangat,


Menariqquee
ReplyDelete