Di Ambang Bimbang


Seperti yang sudah-sudah, saya selalu menyelipkan kata 'eman' setiap kali mau mengganti suatu 'barang'.  Alasannya apa lagi jika bukan terlampau sayang dan sudah terlanjur nyaman. Ya, kalimat-kalimat itu selalu berhasil merayu dan memunculkan noktah ragu. 

Meskipun bukan tipikal perempuan baperan, namun saya merasakan benar makna 'terlanjur nyaman' ini. Rasa-rasanya, tak bisa begitu saja saya beralih kepada yang baru karena sekian lama telah terikat oleh waktu. Tak mudah menghapus memori itu, lantas menuliskan kembali pada selembar kanvas baru.

Tetapi, setitik penyesalan itu semakin lama semakin mengkristal. Lalu perlahan mengoyak ceruk logika dan merangkak mencari kebenarannya.

Seiring pergantian hari, suara hati yang lama sunyi, kini dengungnya terdengar kembali. Pelan, kemudian bertabuh semakin kencang.

Sudah saatnya, pikir saya.

Maka, dengan mengorek logika yang masih bersisa, satu keputusan akhirnya tersimpulkan. Tidak ada lagi yang membebani langkah kaki. Sudah saatnya saya berlari.

Kepindahan Ceritapendek menuju Ceritanurul terhitung efektif mulai detik ini. Sungguh tidak mudah melepaskan ia yang menemani saya dan menjadi saksi bisu atas semua rasa yang hanya tertorehkan melalui kata.

Melalui Ceritanurul, saya akan kembali melanjutkan apa yang sudah saya mulai satu setengah tahun ini. Ada banyak kalimat semoga ketika jemari saya lincah mencipta wujudnya. Sejumlah semoga yang juga semoga diaminkan pembaca.

Selamat datang di Ceritanurul. Selamat berselancar. Semoga apa-apa yang tertuliskan di ruang ini merasuk hingga palung hati terdalam, dan akhirnya menjelma sebagai catatan pendek untuk bekal mengarungi hari yang panjang.

Peluk hangat,
@cerita.nurul

0 comments:

Post a Comment