INTEGRITAS


Malam ini saya menjadi saksi atas profesionalisme, integritas, dedikasi, dan etos kerja yang tinggi. Kejadian ini, di satu sisi menggurui dan menghukum saya sekaligus di sisi yang lain.

Pukul 17.50 saya mendapati kabar bahwa paket yang saya kirimkan untuk sepupu di Surabaya belum sampai. Mengingat jam kantor akan segera tutup, saya buru-buru tracking posisi si barang. Harapannya, saya bisa menelfon kantor JN* terdekat untuk konfirmasi karena jaminan layanan satu hari sampai yang saya gunakan.

Saya masih ingat betapa kagetnya, karena posisi si barang masih di warehouse. Ini artinya tidak ada pergerakan barang semenjak tadi pukul 8 pagi.

"Apa-apaan ini?" Saya bertanya, sekaligus merutuk dalam hati.

Perasaan semakin was-was karena waktu sudah menginjak sholat magrib.

"Di mana janji satu hari sampai seperti yang dijanjikan?" Rasa kesal setengah jengkel mulai menghinggapi.

18.05. Jam kantor telah usai. Seribu pikiran burukpun mulai menghantui. Hanya suara kakak sepupu di seberang telepon yang bisa membuat pikiran saya sedikit lebih tenang.

- - -

Waktu kemudian bergulir. Aktivitas saya malam itu berhasil mengalihkan pikiran saya dari si paket.

Menjelang tidur, saya mengecek ponsel dan menanyakan kabar serupa kepada kakak sepupu. Betapa kangetnya saya mendapati jawaban belum tepat pukul 11 malam.

H a m p i r t e n g a h m a l a m.

Apa yang mereka lakukan seharian? Bagaimana bisa paket belum sampai juga? Saya kembali menerka-nerka karena tidak habis pikir bila mereka melanggar janjinya.

Pukul 23.31 ponsel saya bergetar. Ada notifikasi WhatsApp di sana.




Tahu-tahu perasaan kaget dan haru bercampur menjadi satu. Paket itu mendarat dengan selamat di tangan kakak sepupu saya.

Tetapi, ada yang lebih membuat saya tercekat malam itu. Kurir mengantar paket dengan mobil box, kata kakak saya. Ketika saya bertanya mengapa, ternyata hujanlah penyebabnya.

Memori saya terlempar menuju beberapa saat yang lalu, ketika saya membaca berita online. Frontage A Yani Surabaya, terjadi kemacetan luar biasa akibat hujan dan bajir setinggi betis orang dewasa. Ingatan lainnya membawa saya pada berita serupa, tentang beberapa wilayah di Surabaya yang tergenang banjir hampir setinggi paha.

"Di sini hujan deras dari kemarin malam. Syukur air tidak sampai rumah. Terima kasih paketnya."

Hati saya mencelos membaca pesan terakhir dari kakak sepupu. Tetiba tergambar bagaimana keosnya Surabaya tergenang banjir, dan betapa kurir bekerja keras mengantarkan paket satu-per satu, dari rumah ke rumah. Tetiba terbayang bagaimana lelahnya tubuh mereka tetap bekerja ekstra hingga puncak pergantian hari demi mengantar sekotak paket yang saya amanahi.

0 comments:

Post a Comment