Menyambut Pelangi


Pertemuan kami tidak dimulai dari “Siapa namamu?” “Tinggal di mana?” pun “Sekarang sedang kuliah atau bekerja”.

Semua terjadi begitu saja.

Bila boleh dianalogikan seperti air, mungkin seperti air yang mengalir menuju muara samudera. Namun perkara “Mengapa bisa menjatuhkan pilihan kepadanya”, tentu adalah hal yang berbeda. Seumpama air, ia boleh memilih berdiam di lautan, atau menguap menjadi awan. 

Lalu, semesta dengan izinNya memilih kami menguap, bertransformasi menjadi awan. 

Berangkat dari dua samudera berbeda, kami berpasrah kemana arah angin akan membawa. Kepasrahan berbalut rasa sabar, dan penantian panjang yang sebelumnya tak pernah kami bayangkan.

Boleh jadi di antara kami ingin dijatuhkan di pegunungan yang hijau nan menyejukkan, atau areal persawahan agar bisa memanen jutaan kebermanfaatan. Pada akhirnya, di mana kami terjatuh, ialah sebaik-baik perencanaan atas kekuasaanNya. Tidak ada yang menyangka, pun mengira bila di tempat inilah kami diperhimpunkan.

Sepotong tanah baru di pulau seberang. Yang hanya tumbuh ilalang di atasnya. Ia berkata, jika kami jatuh di sana, ada banyak pohon kebaikan yang tumbuh di atasnya, pun boleh jadi ribuan buah kebahagiaan yang bisa kami petik nantinya.

Sekarang, memang tidak ada lagi pertanyaan “siapa” untuk disandingkan dengan frasa “teman hidup saya”. Tetapi pertanyaan “bagaimana setelah ini” masihlah menjadi misteri.

Kepada hari-hari esok beserta badai guntur yang mungkin menanti, kami adalah sepasang hujan yang tengah bersiap menyambut pelangi. Izinkan rintik kami membasahi bumi. Menyesap ke dalam tanah merah, untuk menghidupi pohon-pohon kehidupan di pulau baru kami.

0 comments:

Post a Comment